Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
HomeHalo!Feb 1, 2007
Selamat datang di blog saya. Ini sekedar cerita-cerita kecil saja tentang saya dan teman-teman dalam mengisi waktu luang kami yang sepi hehe... Terimakasih sudah mampir ya :-)

Photo AlbumMasih mulung jugaMay 2, '08 4:03 PM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Tiba-tiba saja punya ide bikin boneka dari botol plastik bekas. Trus ditambah mulung sisa-sisa paralon, pelampung-pelampung plastik yang terdampar di pantai, kaleng-kaleng bekas minuman, dan minta kain-kain sisa di penjahit-penjahit Tanjung Uban. Lalu "criiingg!" jadilah Mo dan kawan-kawannya yang akan hadir di panggung boneka buat semua anak-anak yang ada di Lagoi! Nantikan liputannya ^-^

Blog EntryMay 2, '08 1:49 PM
for everyone

Yep, sayalah pemulung turunan itu. Bukan mulung barang yang masih kepake loh. Tapi sering tergoda abis! pengen ngambil kalo liat barang-barang yang udah nggak kepake lagi, nyaris dibuang, udah dibuang atau yang terbuang. Padahal kadang belom tau juga mau diapain tu barang sampai numpuk di rumah dan bikin ibu saya marah-marah. Nggak heran sih kalau ibu saya sampai marah-marah. Karena yang mulung barang-barang bekas bukan cuma saya tapi bapak saya juga suka banget mulung barang bekas dan bikin rumah kami penuh dengan barang-barang yang nggak jelas hehehehe... pokoknya dimanapun dan kapanpun kami bisa mulung dengan suka ria hehehe....

 

Nih contohnya waktu ikut survey penyu di pantai pasir panjang, Bintan, begitu kalapnya saya dengan botol-botol yang berserakan di sepanjang pantai. pulang survey saya menenteng 2 ember penuh botol-botol. Sampah botol di pantai itu betul-betul menarik. Selain bentuknya macem-macem, kadang dari tulisan di botol itu kita bisa tau juga dari negara mana asal botol itu. 

  

Dan secara saya hidup di Lagoi banyak waktu luang, saya jadi bisa nge-cat botol-botol itu, terus dijadikan vas, atau sekedar hiasan tempat lampu.

 

Kalau bapak saya mah lain dengan saya. Dia lebih suka memanfaatkan barang-barang hasil mulungnya untuk mengganti atau 'menambal sulam" barang-barang rumah yang rusak. Misalnya tempat jemuran, rak, atau dibikin dingklik (tempat duduk kecil), dll.

Sayangnya kami berdua lebih banyak ngumpulinnya daripada pemanfaatannyah. Itulah kenapa ibu saya sebel banget sama hobi mulung saya (juga bapak saya), yea namanya juga turunan...

Untung ibu tidak serumah sama simbah juga hahahaha....


Photo AlbumKe Sungai KecilApr 4, '08 5:33 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Wah nemu foto-foto jadul niiihh... ini ceritanya dulu waktu awal-awal tinggal di Lagoi pada bingung cari kegiatan di akhir minggu. Jadinya pada ngabur ke desa Sungai Kecil, ke rumah salah satu orang kantor buat ngerampok rambutan plus jalan-jalan keliling desa. Sungai kecil adalah desa paling ramai yang berada di dekat Lagoi. Orang-orang yang dulu tinggal di Lagoi kebanyakan pindah ke desa ini setelah ada pembebasan tanah Lagoi yang kemudian disewakan ke Singapura dan dibangun menjadi sebuah kawasan wisata internasional. Sekarang desa ini bertambah ramai oleh para pendatang dari jawa dan daerah lain bercampur dengan pendatang dari Buton yang telah lebih dulu menetap di desa ini. Jadi kalo main ke Sungai kecil, kita bisa nemu bengkel, tukang jahit, dan warung orang jawa; trus nelayan-nelayan melayu, cina, dan buton; atau makan seafood di warung cina. Sayangnya cuma foto-foto ini yang saya punya...

Blog EntryMar 28, '08 12:21 PM
for everyone

 

 

hei..

asksm

pls b strong

asksklrusm

...amm

 

 


Blog EntryMar 28, '08 11:36 AM
for everyone

01.2008

Waktu telah memindahkan tempat bermainku ke dalam ingatan. Tentang rumah ini dan segala isinya.  Rumah dengan ruang ruang berdinding kayu sudah berubah menjadi rumah gedong bercat putih. Tidak lebih besar, tidak lebih bagus juga. Perabot-perabot berada pada tempatnya apa adanya. Tidak ada yang mengkilat. Dinding-dindingnya putih polos saja. Kemana lukisan-lukisan itu? hanya ada beberapa  foto di dinding ruang tamu. Salah satunya foto sinden Darmi dengan kebaya ketat dan sanggul besar tersenyum penuh percaya diri bermata galak menatap siapa saja yang melihat foto itu. Rekaman masa lalu yang gemilang.

 

....1990

Aku harus melewati halaman luas dan banyak pohon untuk sampai ke rumah ini. Halaman yang lebih mirip kebon membuat rumah ini seperti sengaja dibuat tersembunyi dari para  tetangga. Sebagian dindingnya terbuat dari papan-papan kayu bercat kuning tua dan hijau muda seperti warna tembok-temboknya. Aku suka terasnya, tidak ada ubin, hanya tanah hitam padat tempat parkir motor pitung milik Har. Di setiap sudut teras dan di dekat pintu masuk ke ruang tamu ada patung-patung dari kayu berbentuk kepala orang buatan Har. Di ruang tamu ada lukisan wanita cantik diatas kereta kuda, lukisan seorang rocker memegang gitar, dan beberapa lukisan lain yang lebih kecil ukurannya yang aku sudah lupa gambarnya. Ada juga beberapa lukisan wajah diantara poster-poster metal di kamar mas Yoyok.  ”HAR” ditulis agak miring ke kanan dengan lengkungan yang yang khas pada  kaki huruf R-nya selalu ada di pojok kanan lukisan-lukisannya. Ada juga foto Har bersama Sinden Darmi sedang bersalaman dengan presiden suharto dipasang di dinding belakang  kursi tamu buluk kesukaan kucing-kucing mereka. Selalu bau cat, bau makanan, bau ikan asin kucing, diiringi musik rock milik mas Yoyok bergantian dengan klenengan milik Har dan sinden Darmi. Menjelang sore aku keluar cari jambu atau menyusur pematang sawah di belakang rumah ini.

 

01.2008

Aku melihat tulisan khas itu. Di halaman belakang disamping dapur. Tulisan "HAR", tidak tertera di dalam lukisan ataupun di sebuah patung. Tapi di sebuah sempalan kayu yang dijadikan tempat tautan tali-tali jemuran. Bahkan  terpasang terbalik. Mungkin kayu itu disempal dari salah satu pigura lukisannya. Halaman belakang ini sepi.Tidak ada yang memasak di dapur sebelah jemuran. Perabot perabot buram tak pernah disentuh. Tidak ada bau masakan sinden Darmi yang bercampur dengan bau cat. Sinden Darmi tergolek lumpuh di amben teras sebelah jemuran sedang menangis ditemani tukang pijat Dirah. Di ruangan sebelahnya lagi Har juga tergolek lumpuh total, tidak sadar dan berbau tak sedap. Mas Yoyok belum datang.

Aku terguguk dibalik dinding rumah.

 

03.2008

Ibu menelepon. Kata ibu ditelepon, Har meninggal dua hari yang lalu.

 

 

 

 

 

 

 

 

[in memoriam mbah Har | 03.2008]


Blog EntryFeb 23, '08 11:33 AM
for everyone

Aku butuh jalan-jalan sebentar. Sore yang kelabu di township lagoi. Aku berjalan memutar menuruni bukit kecil tempat dimana dormitoryku berada lebih tinggi daripada dormitory yang lain. Tapi ketika sampai di jalan dasar bukit aku berubah pikiran. Tidak jadi kuteruskan melewati jalan itu karena tiba-tiba saja aku ingat pohon favoritku di simpang bintan lodge. Aku naik lagi ke arah dormitoryku dan berjalan menuju ke arah pujasera lewat jalan yang biasanya, menyusuri jalan kecil diantara dormitory yang lain. Dari belokan ke arah simpang itu, pohon favorit sudah terlihat dan akan terus terlihat sampai kalau aku berbelok ke arah pujasera. Pohon meranti yang sangat tinggi. Lebih tinggi sedikit dibandingkan dengan pohon-pohon lain di sekitarnya. Daun-daunnya hanya bergerombol tipis di ujung-ujung cabangnya yang keatas dan ke samping, jadi cabang-cabangnya terlihat telanjang melukis langit. Katanya dulu banyak monyet yang biasa nangkring di cabang-cabang itu. Lalu sejak itu  setiap kali melewatinya aku selalu berharap bisa melihat ada monyet yang nangkring di atas sana. Tapi tidak pernah ada. Sampai aku lupa berharap. Tapi sore ini aku berharap lagi, dan segera kuurungkan. Selama hampir dua tahun aku melewati pohon itu, tidak pernah sekalipun kulihat ada monyet disana. Jadi kuputuskan untuk memandanginya saja seperti biasanya sampai nanti aku berbelok ke arah pujasera. Tapi hey, apa itu? Ada seekor monyet kecil nangkring di salah satu cabangnya! Aku semakin mendekat sampai tepat berada di bawah pohon. Monyet itu langsung melihat kearahku. Jika saja senja tidak segelap waktu itu, tentu aku bisa melihat ekspresinya apakah dia merasa terganggu atau curious ketika melihatku. Tapi dia tidak pergi. Dia tetap disitu melihat kearahku. Yang  mengagetkan lagi, monyet-monyet lain kemudian berdatangan dan bermain-main di ujung cabang yang ada daunnya. Menyenangkan sekali. Sayangnya senja yang menggelap membuat monyet-monyet itu tak begitu terlihat kecuali jika berada sangat dekat dengan pohon itu. Jika ada orang yang melihatku mungkin mereka akan membatin ada orang nggak beres cengengas-cengenges sendiri di bawah pohon di tengah simpang. Hmm.. tapi sebenarnya ada banyak penjelasan sih kenapa monyet-monyet tidak pernah mendatangi pohon itu selama dua tahun ini. Mungkin karena sudah tidak ada lagi makanan disitu, atau karena monyet-monyet disitu ditangkepin dan yang datang itu monyet-monyet koloni lain, atau keturunan mereka yang dulu tidak ketangkep, dsb deh. Uhm..tapi bagiku hal itu sedang tidak menjadi penting..

Mulai malam. Aku tidak butuh jalan-jalan lagi. Aku sudah lebih baik sekarang.

 

Lagoi:29.01.08

pic: www.gothme.net 


Photo AlbumJogja, Januari08 #2Feb 23, '08 8:59 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Hmmm...banyak hal-hal yang tak terduga terjadi waktu cuti kemaren. Ketemu Agus dan ngobrol seharian dengannya monik, kasan, dan kunti yg kebetulan juga dia lagi cuti dari kantornya yang ada di papua sana. uh..obrolan konyol tentang diri sendiri, pulau-pulau, mercusuar, hutan-hutan, cerita wartawan, pemda, pentas-pentas di daerah, ayam awetan, sampai ke tki ilegal dan radiohead.
Lalu obrolan pagi sembari sarapan bersama monik. Menjemput ijul di stasiun tugu. Kencan dengan Rika, seniman batik dan jumputan, di kkf. Pergi ke bebeng pulangnya makan duren. Bertemu dengan teman-teman lama. Sampai ikut jadi volunteer Gaia ngedrop sembako untuk korban banjir bengawan solo di Mojoasem. Dan kejadian-kejadian tak terduga yang lain yang tidak ada fotonya.. yuuk...

Blog EntryJan 24, '08 1:26 AM
for everyone

halo Monik..

Apa kabarmu?

Apa kabar rumah, buku-buku, teh tubruk dan kepulan-kepulan sigaret?

                                                         Apa kabar ensambel serangga dan kodok

                                                         malam hari?

Halo monik

Aku datang membawa segenggam pagi

Juga sepotong awan kelabu

Yang kutukarkan dengan suara burung hantu

dan kilau debu-debu di jalanan nan terik

                                                     

                                                    Selamat pagi Monik

Ayo kita bercerita

Tentang ruang tamu, kamar tidur dan dapur

ruang keluarga?

                                                        lalu kita terbahak

                                                        mencari-cari jalan

                                                 tentang kearah rumah

 

 

                              hai Ijul..

Apa kabarmu?

Apa kabar kelinci-kelinci hijau di negeri dongeng itu?

Apa kabar kurumie dan benang-benang sulam?

 

Selamat siang Ijul

Aku tau hari ini sungguh terik

Mata kita menyipit

dan keringat mengalir sengit

 

Aku tau sekotak permen tidak bisa ditukar dengan manisan jambu

Kamu juga tau tak perlu rusuh jika tak dapat lotre

Anda belum beruntung

Kata undian

Lalu kita terbahak lagi

 

 

[Bintan,setelah pulang dari Jogja-love Monik&Ijul]

 

 

                                   

 


Photo AlbumIkut Juragan Kebon Dec 30, '07 1:55 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Pergi ke kebonnya si Dendeng ternyata seperti lagunya Tasya..

"Bercrita Dendeng tentang ternaknya dan sayur mayur segala rupa"
"Bercrita Dendeng tentang..." dan seterusnya.

Jayus tapi asli dueh lagunya Tasya hehe.. Sayangnya tidak ada kerbau yang digiring ke kandang. Tapi di kebon ini saya bisa ikut ngasih makan ikan-ikan lele-nya yang ternyata super rakus ya lele itu..hi seru deh.

Sementara saya menikmati suasana kebon dengan lagu Tasya yang mendengung-dengung di kepala saya, si Nana asyik berburu telur kupu-kupu untuk diidentifikasi. Dan yang lain pun tak kalah berkegiatan. Mereka heboh berpose bahkan kakek pun menjadi model minta difoto dengan pose memegang pepaya hahaha...

Anyway, kebon ini namanya Ecofarm, secara Lagoi yang keinggris-inggrisan gitu loh. Nah, si Dendeng inilah yang ketiban jadi juragan untuk mengurusi kebon itu. Ada lele, nila, labi-labi, kebon pepaya, nanas, jeruk, terong, jarak..barangkali tak lama lagi si Dendeng ini bakalan jadi 'most wanted man' bagi ibu-ibu yang mau beli ikan lele dan buah-buahan sambil berteriak kompak "Lha sayur mayurnya mana mas Endeeng...?"

Photo AlbumKanoan Dec 9, '07 4:31 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Kanoan ini adalah istilah saya dan teman-teman saja sih..yang artinya naik kano. Kami kanoan di sebuah reservoir seluas 14.7 km persegi. Tapi daerah jelajah kano kami sudah tentu tidak seluas itu bo’..bisa gempor nih tangan kalau diturutin. Reservoir ini menampung sekitar 6 juta kubik air yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan air di kawasan Lagoi. Air dari reservoir ini sesudah diproses, diedarkan ke seluruh Lagoi sebagai air siap minum. Jadi saya tidak perlu masak air buat minum, tinggal ambil dari kran dan langsung diminum. Kalau sakit perut gara-gara minum air kran, ada orangnya yang bisa langsung ditonjok kok huehehe... (ati-ati lo, ndra hehehe..). Oya, reservoir ini memang dijadikan obyek wisata untuk kanoan dan naik perahu bebek yang pake dikayuh apa ya namanya itu?

Jadi inget waktu kuliah dulu saya pernah belajar naik kano di bendungan Imogiri sama anak-anak Vetpagama. Tapi waktu itu kanonya kano beneran. Maksud saya teh kano yang perlu keseimbangan pemakainya itu loh.. Setengah mati deh belajarnya. Bulak-balik kecebur ke dalam air bendungan yang warnanya seperti kopimix dan kalo kita kecebur serta merta mubal-mubal lumpurnya. Nah kalau Kano yang ini sih kano wisata, benar-benar menyenangkan. Tinggal naik dan dayuuung sambil menikmati pemandangan dan semilirnya angin. Ceria deh saya. Eit, walaupun ada juga sih yang kecebur dan kakinya kram hahaha...untung pakai life jacket, ya Pak.

Photo AlbumBlusukan di Hari SabtuDec 9, '07 2:10 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Cuma karena penasaran dengan staging di tepi sungai hutan bakau bertuliskan “Traditional Fishing Tour”, saya semangat sekali untuk pergi ke tempat itu. Bertiga kami kesana bermodalkan rayuan gombal agar diperbolehkan numpang perahu milik yayasan ekowisata setempat dari jetty tempat mangrove tour sampai ke staging itu. Sementara perahunya mengantar turis menyusuri sungai bakau (eh..ini istilahnya bener nggak ya..), kami yang ditinggal di staging memulai kegiatan blusukan kami. Kali ini benar-benar bertajuk blusukan bagi saya dan Inul. Tapi tidak bagi Rudi. Jiwa guide-nya tetap eksis walaupun dalam rangka blusukan. Ternyata di dalam staging milik Yayasan Ekowisata Alam Lestari ini selain ada alat-alat pancing untuk Traditional fishing tour, ada juga toko souvenir dan beberapa sepeda yang disewakan untuk menjelajahi padang terbuka yang ada di belakang staging. Saya tergoda juga untuk pergi ke padang terbuka di sebalik sungai bakau itu. Tanahnya yang sedikit berpasir ditumbuhi oleh rerumputan, semak belukar dan pohon-pohon pendek. Sementara pohon-pohon yang tinggi tampak nun jauh di sana berlawanan dengan sungai bakau. Kami berjalan saja menyusuri jalan tanahnya yang berwarna kemerahan. Di kanan kirinya banyak ceplok-ceplok perak tempat langit mengaca, yaitu danau-danau kecil bekas galian. Dan di depan, ada satu bukit yang masih tampak sebagai bukit hijau tertutupi oleh pohon-pohon pendek, kecuali di beberapa bagian kaki bukitnya. Telanjang memperlihatkan tanahnya yang kemerahan seperti bekas-bekas galian. Yah..semoga saja bukit itu tidak habis. Anyway, semakin jauh berjalan semakin terasa out of nowhere-nya.. Padahal jika perjalanan diteruskan, kami akan sampai di desa Sungai kecil, sebuah desa di luar kawasan Lagoi ini. Tapi memang sudah saatnya kami harus kembali ke staging. Bagaimanapun juga yang namanya numpang harus sudah siap diangkut pada waktunya.


Photo AlbumPiknik ke DanauNov 26, '07 5:10 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Beginilah salah satu cara mengisi waktu luang secara murah dan meriah di suatu Sabtu yang cerah. Pak Upi membawa gitar dan kerupuk gurilem, Inul membawa mangga dan jus wortel dalam botol, saya membawa sekotak biskuit, Nana membawa setoples kacang-kacangan, Shanti membawakan tikar Pak Upi, dan Sorta berjanji akan memasak untuk makan malam kami karena dia tidak membawa apa-apa hehe... Lalu kami pergi ke danau.

Danau ini sebenarnya bukan asli danau tetapi merupakan bekas galian pasir dan tanah yang cukup luas. Air dari akar-akar pohon dan air tanah yang timbul bercampur dengan air hujan dan aliran air dari sebuah sungai kecil yang berada tidak jauh dari bekas galian ini. Jadilah sebuah danau yang dangkal dan airnya jernih. Di bagian tepi, dasar danaunya berupa pasir tetapi semakin ke tengah dasar danaunya berupa tanah atau lumpur yang berlumut. Jadi begitu nyebur ke danau itu, kami harus langsung berenang dan balik ke bagian tepi lagi atau cukup jalan-jalan di bagian tepinya saja. Kalau tidak, air danau yang jernih akan menjadi keruh oleh lumpur dan lumut-lumut yang terusik oleh kaki-kaki kami. Di areal ini ternyata ada 3 danau kecil tetapi hanya satu saja yang asli alias bukan bekas galian tanah dan pasir. Dan kami tidak berani berenang di danau yang asli hihi... Tampaknya danau bekas galian lebih aman untuk berenang daripada yang asli.

Photo AlbumHujan-hujananNov 16, '07 5:09 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Dulu waktu saya kecil, bermain hujan-hujanan adalah impian semata. Ibu saya bakalan melotot dan bilang ”Tidak boleh!” kalau saya minta ijin buat main hujan-hujanan. Alhasil saya jadi sembunyi-sembunyi kalau hujan-hujanan. Dan setelah sukses main hujan dengan sembunyi-sembunyi, saya jadi tertarik sama main lumpur. Tentu dengan usaha agar tidak ketahuan sama ibu saya juga.
Main lumpur favorit saya adalah meluncur di lereng berlumpur di belakang rumah pakdhe dan di lereng kuburan papringan. Tapi sayang sekali permainan favorit saya ini harus berakhir ketika suatu hari kepergok ibu saya. Saya yang waktu itu berlepotan lumpur langsung dibawa pulang, dijewer disepanjang jalan menuju ke rumah.

Kalau soal main hujan-hujanan, di komplek housing tempat tinggal saya sekarang ini punya cerita lain. Banyak orang tua membiarkan anak-anak mereka bermain hujan-hujanan bahkan mereka kadang juga ikut main hujan-hujanan juga. Saya heran sekaligus ngebatin, asyik sekali melihat anak-anak bersama kedua orang tua mereka bisa main bola hujan-hujanan.

Ok dueh, foto-foto ini adalah kenang-kenangan waktu Hana, Pa’i, Laras, dan Heza masih tinggal di housing Lagoi jadi tetangganya Keane dan tante Yeti, hehe...
Pada suatu hari Hana, Pa’i, Laras, dan Heza main hujan-hujanan, sedangkan Keane tinggal di dalam rumah saja karena malam sebelumnya dia demam. Habis main hujan-hujanan terus mereka pada mandi lalu makan bareng di depan rumah, bersama Keane & mommy-daddy-nya, sama umi-nya Hana & Heza, sama bapak-ibunya Pa’i&Laras, dan sama tante Yeti yang ikut nebeng makan doang sambil pota-poto hehe...akuur...

Photo AlbumSenggarangNov 14, '07 1:16 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Hai hai..yang ini adalah foto-foto waktu pergi ke Senggarang di bulan Juli 2007. Senggarang adalah salah satu pemukiman tionghoa yang ada di Bintan. Di sana kami pergi ke wihara Dharma Sasana. Wihara yang berumur 300 tahun ini berada di pinggir pantai menghadap ke selat antara pulau Bintan dgn pulau Penyengat dan masih berdiri kokoh sampai sekarang. Yang sangat menarik menurut saya adalah patung-patung raksasa yang ada di halaman belakang wihara ini. Ada juga tempat berdoa di bawah pohon beringin buesar..dan tempat mencoba peruntungan dengan membuang duit receh ke kolam penuh dengan kura-kura.


Photo AlbumHindi Yang DuluNov 8, '07 2:07 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Kedai ini sama dengan kedai kopi yang saya ceritakan di "Dari kopi Gesek sampai Akau Potong Lembu". Bedanya, yang ini adalah tampilan lamanya. Sekarang kedai ini sudah pindah ke bangunan baru kira-kira 500 meter ke arah Tanjung Pinang dari bangunan yang lama. Sebenarnya sayang sekali kedai ini harus pindah dan berubah menjadi kedai kopi gedongan. Bangunan kayu tua dengan beberapa tempelan kertas-kertas merah bertulisan huruf-huruf cina di dindingnya dan seorang nenek chinese yang selalu membuatkan kopi pesanan saya terkesan sangat istimewa. Membuat saya selalu ingin minum kopi di kedai Hindi ini. Sekarang ketika kedai ini sudah pindah menjadi kedai gedongan, kopi yang saya pesan jadi terasa tidak senikmat dulu...

Photo AlbumTerong sebelum menikah buat IstiNov 7, '07 8:04 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Bagaimana kalo ternyata calon suamimu punya pacar bencong, Isti? Nggak mungkiiiinnnn.....!! Teriak si Isti. ini adalah kado buatmu sebelum menikah, Tong. hehehe... brutal ih.

Photo AlbumDari Kopi Gesek Sampai Akau PotongLembuNov 7, '07 5:05 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Pas mbak Anik dan mbak Nely ada di Bintan, secara kebetulan teman-teman di Bintan mau berwisata kuliner di kota Tanjung Pinang. Wisata kuliner ini kita beri judul ”Wisata kuliner besama Pak Syam” hehehe... kenapa ada bersama pak Syam-nya segala? Karena pak Syam-lah yg menjadi guide-nya gitu bo’..

Kami berduabelas berangkat dari Lagoi jam 9 pagi. Tujuan pertama adalah kedai kopi Hindy yang berada di desa Gesek, kira-kira 20 km sebelum Tanjung Pinang. Sebenarnya mampir minum kopi di kedai itu adalah ritual wajib kami setiap kali pergi ke Tanjung Pinang. Tapi untuk kali ini, mumpung ada mbak Anik yang dulu pernah punya warung kopi, pengen nunjukin sekalian kopi favorit kami di Bintan ini. Selain kopi, kedai ini juga menjual nasi lemak, bihun goreng, lontong opor dan otak-otak sotong. Tapi yang teristimewa dan wajib dinikmati dari kesemuanya itu memang kopinya. Nah uniknya, di kedai itu ada seorang nenek yang tugasnya hanya khusus membuat kopi saja. Jika ada yang memesan teh atau minuman lain selain kopi, pelayan lain yang akan membuatnya. Pantas saja kopinya enak, tukang bikin kopinya sudah berpuluh-puluh tahun bikin kopi mulu, jadi ya nggak heran dueh hehehe...

Sampai di Tanjung Pinang, kami menuju ke jalan Potong Lembu, wueee...ngeri ya nama jalannya. Kami langsung ke kedai Harmony yang menjual berbagai macam sup. Semua memesan sup ikan keladi, atas rekomendasi pak Syam tentunya.. Dan ternyata tidak mengecewakan bo’. Sup ikan keladinya enak buanget! Sup ini isinya ikan kakap merah, keladi yang dipotong-potong agak tipis, tomat hijau, dan daun selada. Oya ada jamur kuping kering sebagai tambahannya kalau suka. Pokoknya kalo ke Tanjung Pinang, jangan lewatkan sup yang satu ini deh!

Acara selanjutnya adalah acara bebas, sembari menunggu lapar lagi maksudnya. Sementara yang lainnya pada belanja, saya, Pak Upi, Ratnul, dan Rudy mengantar mbak Anik dan mbak Nely ke pulau Penyengat. Makasih banget buat Rudy yang udah mau jadi guide di pulau Penyengat, ya Rud.

Nah, ini nih yang seru. Sorenya kami kembali ke jalan Potong Lembu lagi. Ternyata di jalan itu kalau sore berubah menjadi Akau atau pusat tempat makan. Jam 3 sore para pedagang makanan dan minuman sudah mulai berdatangan dan mempersiapkan dagangan mereka. Berada di tengah-tengah Akau itu saya merasa berada pecinan masa lampau (Duh, emang gw umur berapa seh..) Apalagi bahasa yang mereka pakai adalah bahasa mandarin walaupun dialeknya Teo chew. Asik sekali. Makanan yang dijual juga sangat beragam loh. Dari yang halal sampai yang haram. Maksudnya bagi Rudy sate ayam halal tapi sate babi haram. Lain lagi dengan Pak Upi, ikan hiu goreng haram buat dia, secara dia ikut aliran istrinya yang seorang marine conservationist gitu loh. Sedangkan bagi si Inul, semua makanan haram kalau nggak dimakan, yang ada cuma enak dan enak buanget huahaha...piss nul...


Photo AlbumKunjungan balasan mbak Anik & mbak NelyOct 22, '07 5:08 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Wakaka...akhirnya mbak Anik ke Bintan juga. Tiba-tiba saja dia punya ide untuk ke Bintan waktu kita lagi ngobrol-ngobrol santai di apartemennya di Bangkok 2 bulan yang lalu. Eeee beneran dia ke Bintan bersama tetangga yang sekaligus sobatnya, mbak Nely. Seneng juga liat mbak Anik tampak ceria dan mbak Nely ketawa mulu. Nah tuh sampai berguling-guling di pasir hahahahaha.... the city can wait ya mbak?

Photo AlbumPenyengat "the spooky" IslandSep 13, '07 12:14 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
One of thousands islands in Kepulauan Riau province named pulau Penyengat (Penyengat Island) is famous of its history.

But before the history began, the folklore told first. Long before the 18th century, sailors who sailed the Malacca straits layovered on this island to get fresh water. But, everyone who debarked in this island was always attacked by giant bugs whose sting can cause dead. Uu...deadly sting! That’s why this island is called Penyengat (wasp). Hmm...quite spooky.

Then the history began. In the early of 18th century, descendants of Sultan Johor-Riau Kingdom and the Regent of Johor were fighting for power. They involved Bugis aristocrats’ from Sulawesi to assist the regent of Johor and managed to achieve control of Riau due to the internal struggle between the members of the Johor Empire. After the struggle was over, the Bugis aristocrats were given chairs to rule Riau. The top was”Yang Dipertuan Muda” a kingship-like but its power was just right under the king. Yang Dipertuan Muda I – V were located in Ulu sungai Riau as the central government. Sultan Mahmud Syah who ruled Riau in 1761-1812 built pulau Penyengat into a dreamland country and gave it as a wedding gift to his wife, Ratu Hamidah, who was a daughter of Raja Haji (Yang Dipertuan Muda IV).

Few years later Yang Dipertuan Muda VI, Raja Jaafar (1806-1832), moved the government from Ulu sungai Riau to this island while the central government of Sultan Riau was in Daik-Lingga. Raja Jaafar continued to build pulau Penyengat. He engineered the housings, roads, and waterways.

In 1900, the Sultan Riau, Sultan Abdurrahman Muazamsyah, also moved to this island from Daik-Lingga. Then pulau Penyengat became the central government, development of Islam and Malay cultures from that time.
However, this golden era did not persisted. Sultan Abdurrahman Muazamsyah left pulau Penyengat to Singapore island after refusing to sign an agreement with the Dutch government which could deprive the power of the Sultan Riau and his officials in Riau. To prevent his properties fell into Dutch hands, Sultan ordered his people to destroy the royal buildings. All after that, the citizens left pulau Penyengat to Singapore and Johor in 1911. Only a mosque, one official house, and four spooky complexes of Kings’ cemetery were undamaged. And also there was trench with four canons on the hillock which were used to be a bastion from enemies who came from the sea.

So.. if you could come to this island, don't worry, you still can see the uniqueness of the Malay’s 18th century buildings. If you are sensitive to spooky things, just enjoy of the cemeteries' ambience around you. And don't miss the beautiful sunset from the hillock where the four canons still unswerve facing the sea just like hundred years ago.

How to go there:
- If you come from Batam:
Take boat from Punggur port (Batam) to Sri Bintan Pura port (Tanjung Pinang). From this port, take pong pong to pulau Penyengat.

If you come from Singapore:
- Take boat from Harbourfront direct to Sri Bintan Pura port (Tanjung Pinang), then take pong pong to pulau Penyengat.

Pong-pong from Sri Bintan Pura Tj. Pinang to pulau Penyengat : Rp. 5000/person.

In pulau Penyengat, rent the becak motor to go around the island except to the hillock. It is only Rp 20.000 for two persons include the driver and the gasoline.


Blog EntrySep 8, '07 5:10 AM
for everyone

Sentral Melaka sudah sepi pada jam 10 malam. Beberapa sopir taksi bergegas menawarkan jasanya ketika saya dan Iym turun dari bus jurusan Kuala Lumpur-Melaka di terminal ini. Para sopir itu bilang sudah tidak ada bus kota lagi pada jam segini. Betul juga, saya tidak melihat ada bus lagi di terminal ini. Bahkan bus kosong yang sedang istirahat menunggu pagi pun tidak ada juga. Belum sempat kami memutuskan untuk naik taksi, datanglah sebuah bus kearah kami. Kernetnya seorang ibu-ibu india dengan rambut kepang satu dan berkain sari berteriak kepada kami menanyakan tujuan. Saya bilang mau ke jalan Bukit Cina. Dengan gaya centheng-nya dia melambaikan tangan menyuruh kami masuk ke dalam bus. Ternyata sopir bus itu juga seorang ibu-ibu india berkain sari dan rambut panjang dikepang. Ah, akhirnya dapat bus juga, batin saya sambil duduk. Ketika bus mulai berjalan, ibu sopir ini menyetel lagu india dengan volume keras sekali. Beberapa penumpang yang sebelumnya ngobrol dengan santai serta merta menaikkan volume bicaranya. Tapi ada juga yang langsung berhenti ngobrol. Seorang ibu-ibu berjilbab dengan dahi berkerut menggerutu sebentar lalu menutup kedua telinganya dengan tangannya. Mendengar musik itu saya spontan menggeleng-gelengkan kepala ala orang india, dan Iym terkikik-kikik disamping saya. Gara-gara musik yang keras itu juga ibu kernet jadi berteriak-teriak ketika meminta ongkos ke setiap penumpang. Bus yang paling heboh yang pernah saya tumpangi.

Kami diturunkan di perempatan Pizza Hut jalan Munsyi Abdullah. Ibu kernet bilang bahwa bus mereka tidak melewati jalan Bukit Cina tapi kami bisa kesana dengan berjalan kaki sampai perempatan berikutnya lalu belok kanan. Lalu berjalanlah kami menuju perempatan yang dimaksud oleh ibu kernet itu. Ternyata tidak dekat, Sodara-Sodara. Tapi kami cukup beruntung  bisa dengan mudah menemukan Eastern Herritage sesampainya di jalan Bukit Cina. Bacpackers' lodge ini direkomendasikan oleh beberapa teman yang pernah ke Melaka karena tempatnya kuno dan unik. Seperti di beberapa penginapan backpackers sebelumnya, kami mengisi buku tamu, membayar penginapan sebesar 26RM, lalu ngobrol sebentar dengan resepsionis yang sekaligus pemilik penginapan ini sebelum ke kamar. Memang benar kata teman saya, bangunan penginapan ini adalah bangunan Cina lama. Karena dijadikan backpackers' lodge, kemudian jadi banyak tempelan foto-foto backpakers yang pernah menginap disini dan beberapa peta daerah-daerah di Malaysia. Beberapa rak buku memuat buku-buku mulai dari travelers guide sampai novel, dan tentu saja brosur-brosur pariwisata. Dinding kamar juga dicat dan digambari dengan warna-warna cerah. Selain meja resepsionis yang seperti meja bar kuno di ruang tamu, di ruang tengah tempat tempelan foto-foto dan rak-rak buku tadi juga ada meja dan kursi-kursi buat siapa saja. Semuanya tipikal penginapan backpackers. Sayangnya, tidak ada komputer untuk akses internet dan sarapan gratis di penginapan ini. Kalau menginap di penginapan backpackers yang menyediakan sarapan gratis bisa lebih seru. Pagi-pagi hampir semua tamu akan berkumpul di tempat makan. Masing-masing bikin kopi sendiri-sendiri, bakar roti sendiri-sendiri, terus duduk semeja bareng dengan orang-orang entah siapa dan dari mana. Hampir semuanya masih muda-muda, loh.. Jadi kalau mau seru, tinggal say hi, lalu ngobrol deh.. 

 

Pagi-pagi sekali saya dan Iym sudah siap untuk jalan-jalan mengelilingi Melaka. Pemilik penginapan memberi kami sebuah peta sekaligus menjelaskan arah dan beberapa tempat yang wajib dikunjungi, termasuk tempat makannya. Kami tidak memerlukan kendaraan untuk berkeliling di kota sejarah ini karena antara tempat yang satu dengan yang lain yang mau kami datangi jaraknya sangat dekat. Cukup dengan jalan kaki saja.

 

Tempat pertama yang kami datangi adalah Melaka Sultanate Palace. Bangunan dari kayu nan cantik ini adalah replika kerajaan Melayu berdasarkan deskripsi bangunan kerajaan Melayu yang ada di The Malay Annals. Sayangnya bangunan ini masih belum buka ketika kami mau masuk untuk melihat-lihat ruangannya.

Hanya beberapa meter dari bangunan ini ada A’ Famosa, yaitu bagian dari bangunan sebuah benteng pertahanan Portugis yang dibangun tahun 1511. Selama invasi Belanda, benteng ini hampir dihancurkan seluruhnya kalau tidak ada campur tangan Sir Stamfford Raffless yang mencegahnya pada tahun 1810.

 

Di belakang A’Famosa, ada sebuah bukit kecil diselimuti rerumputan segar dan beberapa semak yang dipangkas dengan rapi. Ada tangga semen dengan pegangan dari besi bercat merah tua menuju ke puncak bukit itu. Kami menaiki tangga semen itu ke puncak bukit, tempat sebuah bangunan tua nan anggun berdiri diantara beberapa pohon yang cukup tinggi. Bangunan itu dulu punya nama dalam bahasa Portugis Duarte Coelho yang artinya Our Lady of The Hill. Sebuah kapel dengan pintu-pintu dan jendela-jendela yang bagian atasnya berbentuk lengkungan setengah lingkaran berukuran sangat besar dibandingkan ukuran manusia. Kini dinding-dinding bata tebal-nya berdiri  tak beratap dan temboknya sudah hampir terkelupas semuanya. Di dinding-dinding bagian dalamnya bersandar lempeng-lempeng batu dengan tulisan dalam bahasa Belanda setebal 10-20 cm, setinggi badan saya, dan lebarnya kira-kira 50-100cm-an. Sejak Melaka dikuasai oleh Belanda, kapel yang dibangun oleh kapten Portugis ini namanya diganti menjadi St Paul’s Church dan tidak lagi menjadi kapel tapi difungsikan sebagai kuburan bangsawan-bangsawan Belanda. Lempeng-lempeng batu itu adalah nisan-nisannya.

 

Target berikutnya adalah sekelompok bangunan kuno ber-cat merah tua. Tapi sebelum sampai disana kami melewati Francis Xaviers Church, sebuah gereja katholik yang dibangun pada tahun 1849 oleh seorang Perancis bernama Reverend Farve. Gereja ini mempunyai dua menara ber-arsitektur gothic yang didedikasikan untuk St. Francis Xavier “Apostle to The East” seorang misionaris penyebaran agama Khatolik di Asia Tenggara pada abad ke-16.

 

Nah, di ujung yang lain dari jalan Laksamana tempat Francis Xaviers Church berada adalah sekelompok bangunan bercat merah tua itu. Bangunan-bangunan itu adalah Malaysian Youth museum, Christ church, dan The Stadhuys.

The Stadhuys dibangun pada tahun 1650 sebagai tempat tinggal gubernur Belanda dan beberapa pegawainya. Sekarang bangunan itu dijadikan museum Sejarah, Etnografi, dan Sastra. Sedangkan bagian samping dari gedung ini disewakan untuk toko-toko souvenir dan baju-baju Melaka. Saya dan Iym sempat agak kalap disini. Persis di depan deretan toko-toko itu ada Christ church yang katanya sampai sekarang bangunan itu masih utuh seperti ketika dibangun pada tahun 1753.

 

 

Siang sudah sangat panas dan kami berdua memutuskan untuk istirahat dulu sebelum melanjutkan jalan-jalan. Dua buah gentong besar di seberang Stadhuys benar-benar mencuri fokus untuk didatangi. Ternyata memang tidak salah, ada orang jualan dawet di dalam gentong besar itu, hihihi..

 

 

Selesai minum dawet, perjalanan berlanjut ke jalan Hang Jebat.  Di kanan-kiri sepanjang jalan ini juga dipenuhi oleh bangunan-bangunan tua yang hampir semuanya sudah bertransformasi menjadi toko-toko. Yang unik adalah, ada tiga tempat ibadah kuno yang letaknya sangat berdekatan. Hanya beberapa meter dari kuil India Sri Poyyatha Moorthi ada masjid Kampong Keling. Bangunan masjid ini adalah bukti bahwa telah terjadi akulturasi budaya Islam dengan budaya Cina dan Melayu kala itu. Masjid ini ber-arsitektur Sumatra dengan kubah bertingkat seperti piramid dan sebuah menara aneh berbentuk seperti pagoda. Dan beberapa meter berikutnya ada Kuil Cina Cheng Hoon Teng yang dibangun pada tahun 1646 dengan material-material yang katanya asli didatangkan dari Cina. Sampai sekarang ketiga tempat ibadah ini masih terawat dengan baik dan masih digunakan untuk bersembahyang. Rukun..

 

Sayangnya kami harus segera cabut dari kompleks bersejarah ini. Kami sudah harus berada di Singapore malam ini untuk mengejar ferry terakhir ke Bintan jam 8 malam, padahal  masih harus ke Melaka Zoo segala. Untung begitu urusan selesai, kami langsung diantar ke Sentral Melaka oleh teman Iym yang bekerja di kebun binatang itu. Sentral Melaka tampak berbeda sekali siang itu dibandingkan dengan malam ketika kami sampai di terminal ini. Seperti layaknya terminal, Sentral Melaka ramai oleh orang-orang lalu lalang, mencari bus atau turun bus, beli tiket, dan segala aktivitas terminal pada umumnya. Bedanya, terminal ini bersih, teratur, dan ber-ac. Dalam bayangan saya, terminal kecil ini berbentuk separo lingkaran dengan bagian lengkungnya adalah bagian depan, berhadapan dengan car park. Di sisi kiri dan kanan adalah tempat bus-bus terparkir dengan rapi. Sedangkan di tengah adalah pintu utamanya. Masuk terminal dari pintu utama ini langsung dihadapkan dengan toko-toko souvenir. Setelah melewati pintu berikutnya, berderet konter-konter karcis bus. Deretan konter itu berbentuk setengah lingkaran membelakangi kursi-kursi tunggu penumpang yang sejajar dan dipisahkan oleh dinding kaca dengan jajaran bus-bus tadi. Terminal kecil yang cukup nyaman. Oya, kami hanya bisa mengejar bus yang berangkat ke Singapore jam 3 sore itu. Artinya, bakal ketinggalan ferry terakhir Singapore-Bintan. Benar juga, jam 10 malam kami baru sampai di Singapore, tanpa booking-an penginapan. Untung masih tersisa satu bed buat Iym di cozy backpacker dan saya diperbolehkan tidur gratis di sofa ruang resepsionis. Hehe..resepsionisnya baik banget…

 


NoteGuestbook
   
bud0dha wrote on Apr 14, '11
Mampir
ariesnawaty wrote on Sep 28, '09
yeti, makasih invitasinya ya. Udah aku approveeeed! :D numpang keliling-keliling liat-liat yaaaa...ketahuan nih, jarang ngisi MP ;). Lagi sibuk di rumah sebelah?
nogaya wrote on Jun 26, '09
Ass wr wb, salam kenal dan persahabatan dari Moskow, mari kita berbagi di dunia maya, semoga bermanfaat guna menjalin ukhuwah yang makin erat di antara hamba-hambaNya. Selamat berkarya dan kompak selalu.
wiraswati wrote on Jan 8, '09
sip. kapan2 tak mampir.
kapan dolan, ponakan-e nganti +neh rung tau dolan ki
viscomica wrote on Nov 18, '08
kok buntu? po geblasuk kali po?
makane yen golek dalan ki takok2 ro penduduk setempat.

kabarku apik Yek...

dikau kepriwe?
Pages:12